Blog Indonesia, ISTANBUL – Dalam tengah rencana Amerika Serikat untuk membantu Israel menyerang Iran, negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan berkumpul di Turki untuk sidang khusus.
Akhirnya, Amerika Serikat mendukung Israel melakukan serangan militer terhadap Iran pada Ahad (22/6/2025). Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan memperluas konflik antara Iran dan Israel serta menimbulkan gejolak signifikan di kawasan Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump menyatakan dalam unggahan media sosial bahwa Amerika Serikat telah melakukan serangan “sangat sukses” terhadap fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan, dan seluruh pesawat telah meninggalkan wilayah udara Iran. “Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat sukses terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan. Semua pesawat kini berada di luar wilayah udara Iran,” kata Trump dalam unggahan di Truth Social.
Sidang khusus yang dihadiri seluruh anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) akan diadakan atas permintaan Iran, sebagai bagian dari Sidang ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri blok tersebut di Istanbul, menurut sumber diplomatik pada Sabtu.
Sesi khusus ini diminta oleh Iran tengah konflik yang sedang berlangsung dengan Israel. Pertemuan tertutup dijadwalkan pada Sabtu malam, berdasarkan informasi dari sumber Kementerian Luar Negeri Turki.
Di tengah serangan Israel terhadap Gaza dan Iran yang berkelanjutan, Istanbul kembali menjadi tuan rumah acara penting yang menarik perhatian global ke Turki. Kota metropolitan Turki menjadi tuan rumah Sidang ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dengan tema “OKI di Dunia yang Bertransformasi.” Sebagai salah satu anggota pendiri OKI, Turki berkontribusi terhadap inisiatif-inisiatif di dalam organisasi tersebut dan juga menjadi tuan rumah kegiatan-kegiatannya yang utama.
Sidang yang diselenggarakan oleh Turki ini diperkirakan akan menjadi pertemuan yang paling banyak dihadiri dalam sejarah OKI. Jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang, yang mewakili rekor tingkat kehadiran yang tinggi dibandingkan sidang-sidang sebelumnya. Perwakilan dari negara-negara peserta meliputi 43 menteri dan lima wakil menteri.
Selain dihadiri perwakilan dari lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan OKI, pertemuan ini juga melibatkan partisipasi tingkat tinggi dari hampir 30 organisasi internasional.
Organisasi-organisasi tersebut antara lain Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Liga Arab, Dewan Kerja Sama Teluk, Kerja Sama Ekonomi Laut Hitam, Kelompok Negara-negara Berkembang Delapan (D-8), Organisasi Kerja Sama Ekonomi, Organisasi Negara-negara Turki, Organisasi Internasional untuk Migrasi, dan Organisasi Perdagangan Dunia.
OKI adalah sebuah organisasi antarpemerintah dengan 57 negara anggota yang memiliki perwakilan tetap di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Uni Eropa. OKI didirikan di Rabat, Maroko pada 12 Rajab 1389 H (25 September 1969) sebagai reaksi terhadap pembakaran Masjid Al-Aqsa oleh Israel.
OKI mengubah namanya dari Organisasi Konferensi Islam pada 28 Juni 2011 pada saat pertemuan 38 menteri luar negeri di Astana, Kazakhstan.
Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan enam pesawat pengebom siluman B-2 di Guam, sebuah pulau di kawasan Mikronesia di Pasifik Barat.
Informasi ini dilaporkan pada Sabtu (21/6/2025) oleh Fox News, yang mengutip data pelacakan penerbangan dan komunikasi udara dengan pengatur lalu lintas udara.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Sabtu (21/6) memperingatkan bahwa keterlibatan Amerika Serikat (AS) dalam serangan Israel yang berkelanjutan terhadap Iran akan menjadi “sangat disayangkan” dan “sangat berbahaya bagi semua pihak.”
Pernyataan ini disampaikan Araghchi kepada awak media di Istanbul, menjelang Sidang ke-51 Dewan Menteri Luar Negeri Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Diplomasi pernah berhasil di masa lalu, dan bisa kembali berhasil. Namun untuk kembali ke jalur diplomasi, agresi harus dihentikan terlebih dahulu,” ujar Araghchi.
Ia menegaskan kesiapan Iran untuk melakukan negosiasi damai, seraya menambahkan, “Kami sepenuhnya siap untuk menyelesaikan (konflik) ini melalui jalur perundingan, seperti yang pernah terjadi pada tahun 2015.”
Araghchi menuding Israel sebagai pihak yang menolak upaya diplomatik, dengan mengatakan, “Israel secara terang-terangan menentang diplomasi.”
Ia kembali menekankan bahwa penghentian permusuhan merupakan syarat utama bagi kemajuan dalam proses diplomatik apa pun.
Ketegangan antara Iran dan Israel meningkat sejak Jumat (13/6), ketika Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah lokasi di Iran, termasuk fasilitas militer dan nuklir, yang kemudian dibalas Iran dengan serangan rudal.
Otoritas Israel menyebutkan setidaknya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan balasan Iran.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran melaporkan bahwa 430 orang tewas dan lebih dari 3.500 lainnya terluka akibat serangan Israel.





