Indonesia Blog, Oleh Sugeng Budiharsono dan Lalu Niqman Zahir*
Artikel ini membahas mengenai respons Iran terhadap Israel, yang menyerang Iran setelah Israel melakukan serangan ke Iran pada Juni 2025. Israel melakukan serangan tersebut atas dalih mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, padahal Israel sendiri yang merupakan faktor utama penyebab ketidakstabilan Timur Tengah.
Namun, serangan tersebut justru memperkuat Iran. Balasan Iran terhadap Israel telah menyebabkan kehancuran kota-kota Palestina seperti Tel Aviv dan Haifa. Barat cenderung meremehkan kemampuan Iran, padahal Iran telah menunjukkan kemampuannya setelah sanksi berat yang telah berlangsung bertahun-tahun. Iran, yang dulunya dikenal sebagai Persia, kini menjadi kekuatan militer yang tangguh di Timur Tengah.
Iran melakukan serangan balik yang menghancurkan Israel, sebagai pertunjukan kekuatan dan kemampuan militer yang telah dikembangkannya. Hal ini juga mengindikasikan munculnya Iran sebagai kekuatan geopolitik baru di Timur Tengah, yang menimbulkan kecemburuan dari negara-negara proksi Barat, seperti Israel.
Israel, yang selama puluhan tahun dikenal memiliki kekuatan militer yang hebat, kini kehilangan reputasinya akibat perang di Gaza yang berkepanjangan. Militer IDF yang dulu dianggap superior, kini ketakutan terhadap milisi Hamas. Senjata-senjata Israel, seperti Merkava, mudah dihancurkan oleh senjata produksi UMK, Yasin 105, dan Iron Dome menjadi mainan bagi roket buatan home industry. Akibatnya, Israel tidak mampu mengalahkan Gaza dalam waktu singkat.
Kondisi ini membuat Israel semakin brutal dalam menyerang Gaza, mengabaikan warga sipil dan militer, baik pria maupun wanita dan anak-anak. Akibatnya, puluhan ribu warga Gaza tewas dan 100 ribu terluka, mayoritas perempuan dan anak-anak. Amnesti Internasional dan University Network on Human Right menyatakan Israel melakukan genosida, dan International Court of Justice menetapkan PM Benjamin Netanyahu dan petingginya sebagai penjahat perang.
Munculnya kembali kekuatan Iran dan negara-negara proksinya, seperti China, Rusia dan Turki, mengancam dominasi Barat. Negara-negara ini telah bangkit sebagai kekuatan geopolitik baru. Kondisi ini mendorong Barat untuk melakukan eliminasi terhadap negara-negara tersebut, seperti yang telah dilakukan terhadap Iran, Rusia dan China.
China, Rusia dan Turki telah bangkit sebagai kekuatan geopolitik dan geoekonomi yang signifikan. Negara-negara ini kini menjadi pesaing utama Barat dalam berbagai bidang. Sementara itu, Amerika Serikat masih berusaha untuk mempertahankan dominasinya dengan melakukan interferensi dan eliminasi terhadap negara-negara yang dianggap mengancam posisinya.
Kekuatan China, Rusia dan Turki semakin kuat, sementara Amerika Serikat berusaha untuk menahan kebangkitan negara-negara tersebut. Kondisi ini mendorong Amerika Serikat untuk melakukan eliminasi terhadap negara-negara tersebut.
Kekuatan China, Rusia dan Turki merupakan ancaman bagi dominasi Barat. Keempat negara ini telah bangkit dan menjadi polar baru dunia.
Indonesia, yang selama ratusan tahun mengalami kemunduran, kini menghadapi masalah serius, termasuk kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kurangnya inovasi. Sumber daya manusia Indonesia masih rendah, ditandai dengan tingkat pendidikan yang rendah, etos kerja yang buruk, dan masalah etika yang merajalela. Kondisi ini menyebabkan Indonesia terbelakang dan rentan terhadap intervensi negara lain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia perlu meningkatkan kompetensi, etos kerja, dan etika, untuk mencapai kejayaan dan kemakmuran.
*) Pendiri dan peneliti senior NAISD





