My Indonesia Blog, JAKARTA – PT Anggana Catur Prima bermitra dengan kaum muda untuk memelihara rempah-rempah tradisional Indonesia melalui kompetisi memasak khusus bagi siswa sekolah kejuruan tata boga. Tujuannya adalah agar anak-anak muda dapat memanfaatkan rempah-rempah secara kreatif dan inovatif.
“Kami berharap siswa dapat menggunakan rempah-rempah dengan cara yang baru dan unik, sambil tetap menjaga rasa khas masakan Indonesia,” ungkap Harry Widjaja, CEO PT Anggana Catur Prima, pada hari Rabu (6/8/2025).
Merek rempah legendaris tersebut meluncurkan kompetisi ini di Jakarta pada hari Senin (5/8/2025). Acara ini melibatkan 1.350 siswa dari 45 sekolah kejuruan di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.
Kompetisi ini menawarkan hadiah total sebesar Rp 200 juta dan memberikan kesempatan bagi para pelajar untuk berkreasi dengan memanfaatkan kekayaan rempah-rempah lokal melalui produk Koepoe-Koepoe.
Kegiatan ini dimulai dengan kunjungan ke 45 sekolah, diikuti oleh 675 tim. Tim-tim terbaik dari setiap kota akan dipilih untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, yang kemudian diakhiri dengan grand final yang akan diadakan di Jakarta atau Yogyakarta.
PT Anggana Catur Prima, yang telah beroperasi selama lebih dari 70 tahun, ingin menjadi penghubung antara pendidikan dan industri kuliner dalam menjaga warisan rempah-rempah Indonesia.
Acara peluncuran dihadiri oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, yang mengapresiasi inisiatif Koepoe-Koepoe. “Sektor kuliner merupakan salah satu dari 17 subsektor prioritas dalam ekonomi kreatif,” jelas Irene.
Irene menilai program ini menunjukkan sinergi positif antara sektor usaha, pendidikan, dan pelaku kreatif. Ia juga menekankan pentingnya regenerasi pelaku kuliner sejak dini, dengan mengenalkan rempah sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia yang dapat meningkatkan daya saing negara di tingkat global.
Kegiatan ini mendapat dukungan dari dua tokoh ternama di dunia kuliner Indonesia, yaitu Chef Rafael Triloko Basanto, Presiden Association of Culinary Professionals (ACP) Indonesia, dan Chef Ronald Noverson Tokilov alias Chef Ron Tokilov dari Balicooks, yang juga bertindak sebagai juri.
Chef Rafael menyampaikan bahwa program ini menggabungkan tradisi dan inovasi, sekaligus berinvestasi dalam menciptakan generasi chef yang siap bersaing secara global tanpa mengabaikan akar budaya Indonesia.
Chef Ron menambahkan bahwa kompetisi ini bukan hanya tentang lomba memasak, tetapi juga kesempatan belajar yang nyata. Para peserta bebas bereksplorasi dengan rempah-rempah tanpa batasan tema tertentu.
“Setelah kompetisi, kami juga akan mengadakan demonstrasi memasak dan berbagi tips cara mengolah bumbu-bumbu agar rasa tetap terjaga seperti pada bumbu ulegan tradisional,” tambah Chef Ron.





