Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia, melalui Gubernur Ace Hasan Syadzily, telah menyusun berbagai skenario kontingensi menghadapi potensi eskalasi konflik antara Iran dan Israel. Informasi ini disampaikan di Jakarta pada hari Senin, 23 Juni 2025, terkait dengan kajian-kajian yang telah dilakukan Lemhanas, termasuk studi krisis dan penyusunan “roadmap” atau jalan keluar strategis, yang berfokus pada memperkuat ketahanan negara dalam menanggapi dinamika geopolitik global.
Ace menjelaskan bahwa kajian Lemhanas mencakup analisis cepat, menengah, dan jangka panjang, serta proyeksi-proyeksi yang diidentifikasi dalam beberapa “kuadran” atau area analisis. Proses ini merupakan bagian rutin dari operasi Lemhanas.
Lemhanas secara berkelanjutan memantau perkembangan situasi global, khususnya selama konflik yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel. Selain itu, lembaga ini secara intensif memberikan masukan dan rekomendasi kepada Pemerintah, termasuk kepada Presiden Prabowo Subianto.
Masukan-masukan dari Lemhanas bersifat rahasia, sesuai dengan regulasi yang berlaku, dan berkaitan dengan pemantauan perkembangan geopolitik, geoekonomi global, serta dampaknya terhadap ketahanan nasional, terutama di sektor ekonomi.
Sebagai respons terhadap serangan udara Israel pada tanggal 13 Juni 2025, otoritas Israel menyatakan tujuan operasi tersebut adalah untuk mencegah ancaman terhadap keberadaan negara Israel. Militer dan intelijen Israel mengindikasikan bahwa Iran mendekati ambang batas dalam pengembangan senjata nuklir.
Laporan media Iran melaporkan adanya korban jiwa di antara pejabat militer dan ilmuwan nuklir akibat serangan tersebut, yang juga menargetkan fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, Isfahan, dan basis militer Iran.
Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, mengutuk serangan tersebut dan memperingatkan konsekuensi buruk bagi Israel. Sebagai tanggapan, Republik Islam Iran meluncurkan Operasi Janji Sejati (Operation True Promise) 3.





