Melalui blog Indonesia saya, Jakarta – Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah berkolaborasi dengan 21 institusi pendidikan tinggi negeri (PTN) untuk menjamin pertanggungjawaban, ketepatan waktu, dan kualitas pelaksanaan program revitalisasi sekolah luar biasa (SLB).
Sebagai langkah awal, Direktur PKPLK, Saryadi, dalam pernyataan resmi yang disampaikan di Jakarta pada hari Minggu, menginformasikan telah dilakukan penandatanganan perjanjian bersama dengan 21 PTN yang terdiri dari universitas dan politeknik negeri.
Ia menjelaskan bahwa 21 PTN tersebut akan memberikan dukungan bagi 155 sekolah luar biasa (SLB) yang menerima bantuan, meliputi seluruh tahapan proses revitalisasi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyusunan laporan kegiatan.
“Kerja sama antara PTN dan SLB merupakan hal yang krusial dalam implementasi program ini. Program revitalisasi SLB ini membutuhkan keahlian dari perguruan tinggi yang memahami aspek teknis pembangunan,” tambah Saryadi.
Menurut Saryadi, dengan adanya pendampingan dari para ahli di universitas dan politeknik, program revitalisasi SLB dapat dijalankan sesuai standar kualitas bangunan serta dengan pengelolaan waktu yang efektif, seperti yang telah ditetapkan.
Selain itu, revitalisasi SLB juga merupakan bagian penting dari program utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang merupakan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, sehingga manfaat dari program ini sangat diharapkan masyarakat, khususnya peserta didik SLB.
“Dengan pendampingan dari para akademisi ini, diharapkan program ini dapat diselesaikan dengan cepat sehingga anak-anak berkebutuhan khusus dapat segera merasakan manfaatnya. Mereka dapat belajar dengan fasilitas dan infrastruktur yang nyaman dan aman, serta untuk mencegah kesalahan dalam penggunaan anggaran yang dapat menyebabkan kerugian negara,” lanjut Saryadi.
Pada akhirnya, setiap universitas atau politeknik akan melakukan pendampingan program revitalisasi dengan pendekatan yang disesuaikan dengan wilayah masing-masing.
Tim ahli dari perguruan tinggi akan bertanggung jawab menyusun dokumen teknis revitalisasi yang sesuai dengan kebutuhan riil sekolah, guna mendukung peningkatan kualitas layanan pendidikan inklusif.
Selain itu, mereka juga akan memberikan pendampingan teknis dan administratif di SLB penerima bantuan.
Dalam kesempatan yang berbeda, Direktur Politeknik Negeri Medan (Polmed) Idham Kamil, menyampaikan apresiasi dan sambutan positif terhadap kerja sama tersebut.
Menurutnya, dengan pendekatan berbasis data dan keahlian vokasi, kerja sama ini akan menghasilkan dampak yang nyata, berkelanjutan, dan menjadi model kolaborasi antarlembaga dalam mendukung pendidikan inklusif dan berkeadilan di Indonesia.
“Kami akan memastikan setiap langkah yang diambil memberikan dampak langsung pada peningkatan kualitas layanan pendidikan di SLB, baik dari segi infrastruktur, pembelajaran, maupun manajemen kelembagaan,” kata Idham.
Sebagai informasi tambahan, program revitalisasi SLB akan menargetkan 155 SLB di seluruh Indonesia dengan pembangunan fasilitas dan sarana untuk mendukung kegiatan belajar anak berkebutuhan khusus (ABK), termasuk pembangunan ruang pembelajaran khusus seperti ruang bina wicara yang dirancang untuk membantu anak tunarungu dengan peralatan terapi wicara.
Program ini dilaksanakan secara swakelola dengan partisipasi aktif masyarakat.





