Oleh : Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
My Indonesia Blog,
Bagaimanakah dampaknya dari ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Israel dan Iran, terhadap perekonomian Indonesia dan dunia secara umum? Situasi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu krisis ekonomi global.
Pada 13 Juni 2025, serangan udara Israel yang menargetkan pemimpin militer Iran memicu eskalasi konflik. Peristiwa ini menjadi badai baru yang mengancam stabilitas ekonomi global, terutama karena dampak domino yang mungkin terjadi di berbagai wilayah.
Pertanyaan kunci adalah bagaimana kita menghadapi krisis ekonomi global ini, mengingat potensi ancaman seperti lonjakan harga minyak dan inflasi yang dapat membahayakan daya beli masyarakat. Indonesia, sebagai negara yang memiliki mandat menjaga stabilitas regional, harus memiliki strategi yang komprehensif untuk merespons situasi ini.
Bayangkan perekonomian dunia seperti sebuah kapal yang tengah berlayar di samudera. Kapal ini telah menghadapi berbagai badai, termasuk pandemi, inflasi, dan disrupsi rantai pasok. Serangan Israel-Iran menjadi badai terberat yang harus dihadapi.
Jika harga minyak, yang merupakan tulang punggung ekonomi global, terpengaruh secara signifikan, konsekuensinya akan sangat merusak. Selat Hormuz, jalur penting untuk pengiriman minyak, menjadi titik kritis yang dapat memicu krisis jika terganggu.
Lonjakan harga minyak mentah, seperti Brent dan WTI, akibat kekhawatiran gangguan pasokan akan meningkatkan biaya produksi secara global dan berdampak negatif pada perekonomian Indonesia. Indonesia sangat rentan terhadap perubahan harga komoditas ini, mengingat ketergantungan kita pada sektor energi dan ekspor.
Selain harga minyak, investor juga cenderung menarik modal dari aset berisiko, yang dapat memicu penurunan pasar saham global. Ketidakpastian ini dapat memperburuk kondisi ekonomi global dan menghambat pertumbuhan investasi.
Untuk Indonesia, situasi ini menjadi tantangan berat mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang sudah berada di level 4,7 persen dan berpotensi menurun. Pertumbuhan yang tertekan ini dapat diperburuk oleh dampak global dari konflik Israel-Iran.
Untuk mengatasi badai ini, Indonesia harus mengambil langkah-langkah strategis. Pertama, menjaga stabilitas harga di dalam negeri melalui kebijakan moneter dan fiskal yang hati-hati. Kedua, melakukan diversifikasi ekonomi dan adaptasi terhadap perubahan global. Ketiga, memperkuat koordinasi internasional untuk menjaga stabilitas ekonomi global. Keempat, mempersiapkan masyarakat dengan edukasi dan komunikasi yang transparan.
Badai ini adalah pengingat bahwa ketidakpastian global dapat mengancam stabilitas ekonomi kita. Dengan persiapan dan strategi yang tepat, kita dapat mengurangi risiko dan memastikan masa depan ekonomi Indonesia yang lebih aman.





