Berita mengenai pertunangan Taylor Swift menjadi sorotan luas. Penggemar-penggemar penyanyi tersebut banyak berbagi reaksi mereka melalui unggahan di media sosial pribadi. Beberapa postingan menampilkan kegembiraan atau tangisan haru. Bahkan, sebuah video di TikTok menampilkan seorang profesor Amerika yang menunda ujian karena kesulitan berkonsentrasi setelah mendengar kabar tersebut—sebagaimana juga dialami oleh murid-muridnya.
Di platform media sosial, sering muncul pertanyaan seperti, “Mengapa aku merasa begitu bahagia, seolah ini seperti pertunanganku sendiri?” atau “Bagaimana cara aku bisa kembali fokus pada pekerjaan?”
Tentu saja, banyak reaksi tersebut diiringi dengan candaan atau terkesan berlebihan. Meskipun begitu, fakta menunjukkan bahwa unggahan tersebut disukai lebih dari 28 juta pengguna Instagram setelah satu hari diposting.
Apa yang menyebabkan seseorang merasa terhubung dengan kehidupan seorang selebriti, seolah-olah mereka adalah teman dekat?
Ketika seseorang merasakan kedekatan emosional terhadap seseorang yang tidak mereka kenal secara langsung, fenomena ini disebut sebagai “hubungan parasosial.”
Hubungan ini bisa dirasakan terhadap selebriti besar seperti Taylor Swift, atau juga influencer internet maupun pemandu podcast yang populer. Intinya, selebriti tersebut umumnya tidak menyadari keberadaan orang yang merasa begitu dekat dengannya. Psikolog Sonia Jaeger menyebut fenomena ini sebagai “teman perempuanku yang tidak mengenalku” dalam blognya.
Konsep hubungan parasosial ini sejalan dengan meningkatnya popularitas acara reality show di televisi dan media sosial. Dahulu, penggemar hanya mengetahui idola mereka melalui karya seperti film atau album, serta sedikit informasi tambahan yang ada di majalah atau surat kabar.
Sekarang, publik memiliki akses ke informasi yang jauh lebih banyak tentang kehidupan pribadi selebriti, mulai dari nama hewan peliharaan mereka, kehidupan asmara, tempat liburan, hingga masalah kesehatan yang mereka hadapi. Informasi ini dibagikan oleh sang selebriti atau didokumentasikan melalui ponsel pintar yang terus merekam kehidupan mereka.
Dengan banyaknya informasi, perasaan romantis muncul. Tidak heran jika banyak orang tahu nama kucing Taylor Swift, berapa kali ibu Taylor Swift selamat dari kanker, dan berapa banyak hubungan yang sulit yang telah dia alami, serta banyak yang ikut merasakan kebahagiaannya atas pertunangannya.
Kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain merupakan bagian dari evolusi manusia. “250.000 tahun lalu, manusia harus saling mengandalkan satu sama lain untuk bertahan hidup. Itu sebabnya kita membangun hubungan sosial,” kata Arthur C. Brooks, sosiolog dan profesor di Universitas Harvard. “Karena itu pula kita tertarik dan peduli pada kehidupan orang lain, jika mereka cukup sering ‘hadir’ dalam kehidupan kita.” Baik pertemuan itu di dunia nyata atau maya—melalui pembaruan Instagram, menurut Brooks, tidak ada bedanya.
Tidak bisa dipastikan apakah hubungan parasosial itu sehat atau tidak. Tidak salah jika seseorang merasa senang atas pertunangan seorang superstar dengan atlet profesional jika hal tersebut dapat membantu mengalihkan perhatian dari berita-berita buruk yang mendominasi dunia saat ini.
Menjadi bagian dari komunitas penggemar yang saling bertukar informasi seputar kehidupan dan karya seseorang dapat membuat kita merasa tidak begitu kesepian. Selama pandemi COVID-19, hubungan parasosial yang sepenuhnya terjadi secara daring bisa sedikit memenuhi kebutuhan akan koneksi antar manusia.
Namun, para ahli sepakat: hubungan parasosial tidak dapat menggantikan hubungan timbal balik yang sesungguhnya antar orang dalam kehidupan nyata.
Selebriti seperti Taylor Swift dan Travis Kelce tidak akan secara pribadi merespon kasih sayang yang ditunjukkan para penggemarnya. Hubungan ini, menurut Brooks, ibarat makanan cepat saji: “Rasanya enak, tetapi tidak memiliki nilai gizi dan tidak memberi kita apa yang sebenarnya kita butuhkan.”
Dengan kata lain, Taylor Swift tidak akan mengucapkan selamat jika kamu mengumumkan pertunanganmu di Instagram. Kita membutuhkan teman sejati yang benar-benar peduli dan dapat merespon kasih sayang yang telah kita berikan.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Sorta Caroline
Editor: Yuniman Farid





