Komando Daerah Militer IX/Udayana menyampaikan pemahaman terhadap kemarahan Serma Kristian Namo, ayahanda Prada Lucky Chepril Saputra Namo, atas kehilangan putra tunggalnya.
Wakil Kepala Penerangan Kodam IX/Udayana, Letnan Kolonel Infanteri Amir Syarifudin, menyatakan bahwa reaksi tersebut merupakan hal yang wajar mengingat kondisi seorang ayah yang berduka. “Kita sepenuhnya memahami perasaan beliau. Reaksi seperti ini adalah hal yang alami,” ujarnya di Denpasar, Bali, pada hari Jumat.
Serma Kristian Namo adalah seorang anggota TNI aktif yang bertugas di Komando Distrik Militer (Kodim) 1627/Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Ia sangat terpukul dan mengecam keras atas dugaan kekerasan yang menewaskan anaknya.
Peristiwa dugaan kekerasan dan penganiayaan tersebut terjadi di Batalyon Teritorial Pembangunan 834/Wakangan Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, di mana Prada Lucky melaksanakan tugasnya.
Keterangan menunjukkan bahwa Serma Kristian tidak mampu menahan diri saat menjemput jenazah anaknya di RSUD Aeramo, Nagekeo, NTT, pada hari Rabu (6/8).
Namun demikian, Amir menegaskan bahwa Kodam Udayana telah menjalin komunikasi dengan Serma Kristian, yang menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada tim investigasi yang telah dibentuk. “Komunikasi telah terjalin, dan beliau menyerahkan kendali kepada kami sebagai bagian dari institusi militer, mengingat beliau sendiri adalah seorang militer, serta memahami prosedur yang berlaku,” pungkasnya.
Sebelumnya, Prada Lucky Chepril Saputra Namo meninggal dunia pada hari Rabu (6/8) pukul 10.30 Wita setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari di Rumah Sakit Umum Aeramo, Nagekeo, NTT, diduga akibat tindakan kekerasan oleh seniornya.
Prada Lucky baru bergabung dengan TNI AD pada Mei 2025 dan telah menyelesaikan pendidikan di Buleleng, Bali, sebelum ditempatkan di Batalyon Teritorial Pembangunan 834 Wakanga Mere, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.





