Komite Paralimpiade Nasional Indonesia (NPCI) DKI Jakarta bersama Yayasan Inklusi Pelita Bangsa (YIPB) menyelenggarakan Kejuaraan Tenis Meja DKI Jakarta 2025, sebagai persiapan menuju ASEAN Para Games 2025 yang akan berlangsung di Thailand pada awal Januari 2026.
Turnamen ini, yang digelar pada 8-10 Agustus 2025 di Mal Pluit Village, Jakarta Utara, berfungsi sebagai uji coba bagi atlet tenis meja Indonesia yang akan berkompetisi di ASEAN Para Games 2025. Acara ini juga dimanfaatkan untuk mengidentifikasi atlet berbakat.
Chef de Mission ASEAN Games 2025, Reda Mantovani, menyatakan bahwa kejuaraan ini adalah tahap persiapan penting bagi para atlet dan kesempatan untuk menemukan talenta baru. Ia menekankan perlunya dukungan multidimensi untuk mencapai target juara umum dalam ASEAN Para Games.
Cahaya Manthovani, Ketua Pelaksana Kejuaraan Tenis Meja DKI Jakarta 2025, menjelaskan bahwa kejuaraan ini juga bertujuan untuk memperkenalkan kemampuan atlet disabilitas dan mencari bibit atlet baru untuk partisipasi dalam ASEAN Para Games 2026 dan Paralimpiade 2028. Ia menambahkan bahwa fokusnya adalah menunjukkan bahwa disabilitas bukanlah hambatan untuk mencapai prestasi.
Cahaya juga menyampaikan harapan agar melalui acara ini, peserta—baik atlet disabilitas maupun non-disabilitas—dapat saling belajar, memberikan dukungan, dan mencapai batas kemampuan mereka melalui semangat olahraga.
Kejuaraan Tenis Meja DKI Jakarta 2025 diikuti oleh 335 peserta, terdiri dari 128 atlet disabilitas dari 13 provinsi dan lebih dari 200 peserta umum. Peserta akan bersaing untuk meraih total hadiah sebesar Rp180 juta, menjadikan kejuaraan ini salah satu turnamen tenis meja inklusif terbesar di Indonesia.
Provinsi yang meraih medali terbanyak akan mendapatkan dua trofi utama, yaitu Piala NPCI DKI Jakarta untuk kategori umum dan disabilitas.
Yasin Onasie, Ketua NPCI DKI Jakarta, menjelaskan bahwa turnamen ini merupakan yang pertama kali menggabungkan atlet disabilitas dan non-disabilitas dalam satu kompetisi. Tujuannya adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa atlet disabilitas memiliki kemampuan dan kepercayaan diri yang setara dalam berkompetisi bersama atlet non-disabilitas, seiring dengan semangat sportivitas dan persatuan melalui olahraga.
Maya Miranda Ambarsari, Ketua Dewan Pembina YIPB, menyatakan bahwa penyelenggaraan turnamen di ruang publik merupakan cara efektif untuk menghilangkan batas antara atlet disabilitas dan masyarakat umum. Ia menekankan bahwa olahraga bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang saling pengertian, penghargaan, dan dukungan.
Pemilihan Mal Pluit Village sebagai lokasi turnamen merupakan bagian dari misi inklusif, sehingga masyarakat dapat menyaksikan langsung semangat perjuangan para atlet dan ikut serta dalam perayaan kemerdekaan secara inspiratif dan membangun.
Kehadiran tokoh-tokoh publik seperti Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Nusron Wahid, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta Raffi Ahmad, Denny Sumargo, dan Jusuf Hamka, tidak hanya sebagai dukungan simbolis, tetapi juga sebagai bentuk nyata kepedulian terhadap gerakan inklusif.
Maya menyampaikan harapan bahwa kehadiran tokoh publik ini dapat menjangkau lebih banyak pihak, sehingga gerakan inklusif dapat terus berlanjut.
Dengan tema “Mendobrak Batas”, Kejuaraan Tenis Meja DKI Jakarta 2025 bukan sekadar ajang perebutan gelar, tetapi juga panggung untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap disabilitas, dan semangat ini diharapkan dapat beresonansi hingga ke tingkat internasional.





